Aurat Pikiran Yang Perlu Ditutupi


Media sosial online saat ini berkembang begitu pesat, hampir semua kalangan masyarakat bisa menggunakannya dengan mudah. Dari anak – anak hingga yang sudah tua, mulai pebisnis, pegawai hingga pengangguran Tak peduli kasta sosial yang dimiliki, semua orang bebas menggunakan media sosial.

Aurat Pikiran Yang Perlu Ditutupi

Namun semua kemudahan dan keterbukaan yang ditawarkan ini bukannya tanpa efek samping. Jika ditimbang lebih cermat lagi, baru terlihat bahwa efek yang ditimbulkannya ternyata sama banyak atau bisa saja lebih banyak daripada manfaat yang ditawarkan. Salah satu yang akan kita soroti di sini adalah kebebasan berpendapat yang kebablasan.

Disebut kebablasan karena sebagian orang tidak merasa perlu untuk menimbang dan berpikir ulang tentang dampak yang akan terjadi ketika ia mengeluarkan pendapat. Padahal pertimbangan matang dan memikirkan ulang itu adalah ibarat sistem Quality Control di setiap pabrik industri untuk menjaga dan menjamin bahwa produk yang dikeluarkan akan memiliki kualitas tinggi dan bermanfaat bagi konsumen.

Efek yang terjadi kemudian adalah peredaran berbagai macam pemberitaan hoax yang masif, perdebatan dan pertengkaran semu yang tak habis – habis, kegaduhan yang semakin membesar dll yang terjadi di media sosial.

Maka dalam suatu kesempatan, seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati mengeluarkan sebuah ungkapan yang bisa menggambarkan realitas yang terjadi saat ini baik di media sosial maupun juga di dunia nyata yakni tentang urgensi seseorang untuk menjaga atau menutupi aurat pikirannya, beliau adalah Emha Ainun Najib atau biasa dikenal dengan nama Cak Nun.

Penjelasan Tentang Aurat Pikiran

Setiap orang memiliki jalan pikirannya sendiri. Masing – masing tidaklah sama tergantung dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, seberapa tajam penalaran yang diasah, seberapa kritis ia mempertanyakan sesuatu, seberapa jernih pikirannya dari pengaruh emosi/ hawa nafsu atau faktor yang lain.

Perbedaan jalan pikiran inilah yang kemudian akan memunculkan perbedaan pendapat satu sama lain. Sedangkan pengertian Aurat Pikiran adalah layaknya pengertian Aurat Badan yang jamak diketahui yakni setiap hal yang yang muncul atau terbersit di dalam pikiran yang tidak patut untuk diumbar di muka umum.

Dalam Islam setiap orang telah ditetapkan batas Aurat Badannya masing – masing. Antara Perempuan dan Laki – laki batasnya berbeda, Aurat perempuan yang wajib ditutupi dan tidak boleh diumbar porsinya lebih banyak daripada Laki – Laki. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi harga diri dan kehormatan Perempuan. Di sisi lain, dengan konsep Aurat ini Islam ingin mencegah terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan yang mana dampaknya bisa sangat signifikan dalam masyarakat.

Beda dengan Aurat Badan, Aurat Pikiran adalah konsep yang baru diperkenalkan oleh Cak Nun untuk menanggapi kondisi sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Aurat Pikiran tidak memiliki batasan yang cukup jelas sebagaimana Aurat Badan, Beliau hanya menyebut bahwa Aurat Pikiran juga perlu ditutup, disembunyikan dan tidak perlu diumbar ke mana – mana. Jadi setiap orang perlu mengukur dan menimbang dalam pikirannya masing – masing bahwa apa yang dikeluarkannya patut atau tidak, bermanfaat untuk masyarakat umum atau tidak, akan menimbulkan kegaduhan atau tidak, atau pertimbangan – pertimbangan lainnya.

Masalahnya ukuran yang menjadi batas ini bersifat relatif, antara satu orang dengan lainnya mungkin berbeda – beda. Maka mau tidak mau setiap orang dituntut untuk terus menerus introspeksi diri menimbang pikiran sebelum menjadi ucapan dan menimbang ucapan sebelum menjadi perbuatan. Ini adalah sebuah konsep yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut oleh semua pihak.


Potensi Buruk Yang Ditimbulkan Jika Mengumbar Aurat Pikiran

Jika kita memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam bermasyarakat tentu dengan sangat mudah mendeteksi apa saja dampak negatif di zaman keterbukaan informasi munculnya banyak sarana yang mengakomodasi setiap orang mengungkapkan segala pendapat, uneg – uneg, curahan hati atau apalah namanya saat ini.

Seperti contoh : Budi adalah seorang remaja puber, ia sudah beberapa minggu berpacaran. Sebagai seorang puber dan memiliki pacar kebanyakan yang muncul di pikirannya adalah hal – hal yang berbau syahwat dan keinginan – keinginan yang khas dilakukan seorang remaja puber, ingin selalu berduaan, jalan – jalan, dll. Suatu hari tanpa alasan yang jelas ia putus dengan pacarnya. Dalam hati sebenarnya ia merasa sakit hati karena putus. Maka salah satu jalan untuk mencurahkan isi hati adalah melalui media sosial.

Jika Budi adalah seseorang yang kurang bisa menutup Aurat Pikirannya, maka karena diliputi oleh rasa sakit yang mendalam ia mengumbar segala keburukan – keburukan pacarnya di media sosial, mengungkit – ungkit masa lalu dan memuntahkan semua isi hati yang sebenarnya tidak layak diumbar di publik. Maka bayangkan apa yang akan terjadi kemudian? Semua teman dan saudara dekatnya atau setidaknya teman medsos akhirnya mengetahui segala rahasia yang seharusnya disimpan rapat. Bagi budi mungkin akan merasa lega sesaat setelah menuliskan semuanya, namun setelah semua sakit hati mulai mereda, pikiran jernihnya mulai pulih dan ia membaca kembali ungkapan – ungkapannya maka tentu ia akan malu luar biasa, belum lagi ia menyadari semua rahasianya telah tersebar ke mana - mana.

Itu tadi adalah sebagian contoh terkadang terjadi pada anak – anak usia remaja. Masih banyak contoh – contoh lainnya. Bahkan semua orang apapun latar belakang sosialnya, tua muda, semua berpotensi tidak bisa mengontrol penjagaan Aurat Pikirannya masing – masing. Setiap pendapat yang diungkapkan, setiap kata yang terucap sedikit banyak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya. Jangankan ngomong sesuatu yang buruk, untuk menasihati orang saja jika keadaannya tidak pas maka yang didapat justru hujatan dan bullyan dari pihak yang tidak suka.

Cara Menyikapi Aurat Pikiran

Gambaran situasi saat ini seperti yang dijelaskan di atas sudah seharusnya membuat kita sama -sama merenung, Bagaimana seharusnya seseorang bersikap? Sedangkan fenomena umbar - umbar Aurat Pikiran yang terjadi saat ini semakin lama semakin memprihatinkan.

Menurut kami tidak ada cara lain yang bisa kita ambil selain satu – satunya jalan yang tersisa yaitu terus berlatih menutup dan menjaga Aurat Pikiran kita masing – masing. Untuk menjaganya itu pun sebenarnya tidak mudah, seseorang perlu memahami dan mempelajari banyak hal sehingga jika dibutuhkan ia bisa meletakkan posisi secara pas apakah harus ikut berpendapat atau lebih baik diam, apakah harus menasihati atau sebaiknya justru mendengarkan dll.

Untuk menjaga Aurat Pikiran dengan baik, memiliki wawasan yang luas hukumnya adalah wajib bahkan fardhu ‘ain bagi setiap umat Islam, dengan begitu ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam isu baik politik maupun sosial yang terjadi di masyarakat. Tanpa itu yang terjadi adalah kondisi seperti saat ini. Debat kusir muncul di mana mana, para ulama diadu satu sama lain, antar kelompok terlibat saling menghina dll. Sulit rasanya mencari kedamaian sejati di dunia keterbukaan informasi seperti sekarang.


Demikian sekelumit pemaparan tentang Aurat Pikiran hingga bagaimana cara menyikapinya. Semoga masih ada banyak orang pihak yang merenungkan konsep Cak Nun yang menurut kami sangat bermanfaat ini. Sekian, Wallohu A’lam.

Belum ada Komentar untuk "Aurat Pikiran Yang Perlu Ditutupi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel