Keharusan Orang tua Menjadi Teladan Bagi Anak (Novel Partikel, Dee Lestari)

Keharusan Orang tua menjadi teladan bagi anak

Orang tua sudah seharusnya bisa menjadi guru teladan yang baik khusus untuk setiap anaknya. Anak terlahir di muka bumi dalam keadaan suci, pola didik dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tualah yang akan memiliki pengaruh besar pada cara pandang dan tingkah laku anak di kemudian hari. Orang tua hebat sangat berpotensi menghasilkan keturunan yang juga hebat, begitu juga potensi buruk orang tua kemungkinan besar akan mempengaruhi masa depan keturunannya.

Sebuah Novel berjudul Partikel karya Dee Lestari mampu mewakili penjelasan di atas dengan baik. Novel ini merupakan buku ke 4 dari serial novel Supernova yang cukup populer di kalangan pegiat bacaan novel. Judul novel ini diambil dari arti kata tokoh utamanya yang bernama Zarah. Kata Zarah sendiri berasal dari bahasa arab yang berarti Partikel.

Novel ini mengisahkan tentang perjalanan panjang Zarah untuk menjawab pertanyaan - pertanyaan yang diwariskan sang ayah, sekaligus berusaha mencari keberadaannya yang tiba – tiba menghilang tanpa jejak dengan menyisakan banyak teka teki yang misterius.

Firas nama Ayah Zarah adalah seorang dosen IPB sekaligus ilmuwan di bidang Mikologi (seluk beluk jamur), kecintaan dan kepercayaannya pada ilmu pengetahuan yang begitu mendalam membuatnya memiliki pola pikir dan kepercayaan yang berbeda dengan orang lain. Hal itulah yang di kemudian hari menimbulkan perbedaan pendapat yang berkepanjangan dan kian meruncing dengan keluarga ibu Zarah yang mana sekaligus merupakan keluarga angkatnya.

Ketika usia Zarah memasuki enam tahun sudah sewajarnya anak seusia itu disekolahkan oleh orang tuanya. Namun bagi Firas, ia merasa mampu mendidik anaknya sendiri lebih baik daripada di sekolah, sekolah baginya hanyalah sebuah sistem yang tidak bisa menghasilkan apa – apa selain robot penghafal.

Firas adalah ilmuwan, ia tahu cara mendidik anaknya dengan lebih baik dari pada sekolah meskipun hal itu bertentangan dengan pandangan banyak orang termasuk istrinya sendiri, Ibu Zarah. Setiap malam sebelum tidur Firas mengajar Zarah, pengetahuannya yang mendalam dalam banyak hal membuatnya bisa menjelaskan berbagai macam ilmu pengetahuan yang ia miliki dengan bahasa yang sederhana kepada anaknya yang masih kecil. Bahkan Zarah sendiri tidak merasa bahwa dirinya sedang belajar, ia lebih merasa sedang mendengar dongeng pengantar tidur. 


Ia bukan saja menjelaskan namun juga membuat ilustrasi gambar secara detail apa yang sedang diterangkan sehingga membuat Zarah bisa membayangkan penjelasannya dengan baik. Dalam setiap ‘dongeng pengantar tidur’nya Firas memberi kesempatan sebanyak mungkin bagi Zarah untuk bertanya, lantas ia akan menjelaskan dengan selugas mungkin. 

Firas adalah pengajar yang bijaksana, ia mengetahui tahapan demi tahapan dalam mengajar mulai penjelasan yang sifatnya ringan hingga berat, tidak mentang – mentang seorang ilmuwan lantas asal comot bab dalam ilmu pengetahuan. Dengan begitu bisa meminimalisir timbulnya kekacauan berpikir anaknya. Untuk lebih meyakinkan Firas tidak hanya sekedar memberi penjelasan, Firas mempraktikkan apa yang diajarkan terutama dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam dengan melakukan berbagai eksperimen pribadi dan mengajak Zarah untuk terlibat di dalamnya, meskipun kebanyakan ia hanya melihat tanpa mengetahui apa sebenarnya yang dilakukan ayahnya.

Firas serius sekali mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan kepada anaknya sebagai konsekwensi yang harus ia ambil dari pendiriannya yang tidak ingin menyekolahkan Zarah, bahkan ia sempat membuatkan rapor pribadi hasil pengujian dan evaluasinya secara berkala pada Zarah selama proses pembelajaran. Rapor yang berbentuk buku tulis lecek yang di dalamnya penuh dengan tulisan tangan, tabel, diagram dan skesta untuk mengukur hasil tes Zarah.

Berbagai metode pembelajaran di atas, terasa sangat menarik bagi si kecil Zarah, sebenarnya ia lebih merasa bermain ketimbang belajar, bermain yang penuh dengan ilmu. Ia begitu kagum dengan ayahnya, ia menganggapnya sebagai seorang pahlawan bahkan hingga memujanya laksana dewa, segala apa yang diucapkan ayahnya terasa bagai titah dewa yang harus dipercaya dan dilaksanakan.

Suatu hari Firas dan istrinya terlibat percekcokan hebat, ini adalah puncak kemarahan istrinya karena walau dibujuk sampai kapanpun Firas tetap berpegang pada pendiriannya bahwa Zarah tidak perlu sekolah. Ibu Zarah mengejek metode pengajaran Firas yang menurutnya tidak memiliki sistem dan asal – asalan. Firas tentu membantah semua tuduhan itu. Hingga tiba – tiba sang istri tergerak ingin menguji Zarah sendiri. Untuk meyakinkan bahwa apa yang dilakukan suaminya selama ini nol besar. 

Dengan ragu Zarah mengeluarkan kertas - kertas bergambar hasil pembelajaran dengan ayahnya tentang berbagai macam hal selama ini. Ibunya mengambil salah satunya tentang anatomi otak manusia, ia menanyakan tiap bagian – bagiannya dan sukses dijawab dengan sempurna. Tidak puas dengan itu ibunya mengambil kertas lain, Anatomi kulit, bertanya dan sempurna lagi jawabannya. Setengah marah ia berkata, “Cuma belajar beginian, mana Matematikanya? Bahasa Indonesia? PMP? Agama? Dengan sigap dijawab, “Bu, yang Zarah bawa ini cuma gambar – gambar anatomi, dan ini baru yang manusia. Masih ada binatang, masih ada tumbuhan . Nah itu baru Biologi. Kalau Matematika sifatnya bukan hafalan, jadi Zarah tidak pernah simpan catatan. Zarah sama ayah langsung latihan di kertas atau di papan. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris kami baca buku”. Setelah itu percekcokan Firas dan istrinya masih terus berlanjut hingga keduanya merasa tiba pada titik putus asa karena merasa tidak bisa mengubah pendirian satu sama lain, dan kemudian berhenti dengan sendirinya.

Banyak hikmah dan berbagai macam ilmu baru yang bisa diambil dari membaca novel ini, selain banyak mengkritik tentang sistem pendidikan sekolah, banyak juga kritikan menarik yang ditonjolkan mengenai lingkungan. Namun tentunya juga ada banyak catatan di dalamnya. Novel ini disajikan dengan gaya bahasa yang cukup berat, tidak semua orang akan menyukainya bahkan sebagian mungkin akan cepat bosan jika tidak terbiasa dengan hal demikian, ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam istilah ilmiah yang sulit dipahami di sepanjang alur cerita. 

Di sisi lain tidak sedikit nuansa yang disajikan di dalamnya berbau atheisme sehingga mengharuskan pembaca untuk pintar memilah mana yang harus dipercaya dan mana yang hanya perlu dianggap sebagai bumbu cerita, karena namanya juga novel, batasan antara kebenaran dan hasil imajinasi penulis tipis sekali.

Terakhir, walau di awal cerita hingga mendekati akhir seakan novel ini berdiri sendiri, namun penulis tidak lupa untuk memberi link di akhir sebagai tanda bahwa ini adalah novel serial, kemunculan tokoh utama dalam seri - seri novel sebelumnya menjadikan pembaca akan di buat penasaran jika hanya membaca novel ini saja. Maka pembaca perlu membaca novel – novel sebelumnya dan juga menanti serial lanjutannya. Bagi kami serial novel Supernova karya Dee Lestari ini benar – benar novel yang bisa memunculkan banyak misteri dan pertanyaan, sebagian mungkin akan ditemukan jawabannya sebagian lagi tetap akan menjadi misteri, tugas pembaca untuk menemukannya sendiri.

Sekian. Selamat membaca!

Belum ada Komentar untuk "Keharusan Orang tua Menjadi Teladan Bagi Anak (Novel Partikel, Dee Lestari)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel