Menghukum Siswa Didik Kurang Efektif

Mencari cara menghukum yang efektif


Memberi Hukuman Tidak Efektif

Banyak guru mengeluh karena perlakuan murid yang semakin hari semakin ngelunjak. Diperingatkan tidak bisa, dinasihati secara halus tidak digubris, maka akhirnya cara yang ditempuh adalah cara mainstream dengan membuat berbagai model hukuman dengan maksud untuk mengendalikan para siswa didik agar lebih disiplin seperti yang diharapkan.

Meskipun aturan hukuman sudah diterapkan, nyatanya tidak sedikit siswa didik yang curi – curi kesempatan untuk melanggarnya. Masalah pelanggaran siswa tidak bisa dikendalikan hanya dengan hukuman. Mungkin para siswa telah berhitung, “ah paling hanya dihukum begini/ begitu, tidak masalah". Kejengkelan para guru meningkat karena merasa diremehkan begitu rupa, di puncak kejengkelan muncullah sifat aslinya, tindakan kekerasan mulai dilakukan.

Sekali dua kali semua siswa didik takut melihat hal yang ekstrem itu. Namun selebihnya mereka akan beradaptasi dan apa mau dikata, tetap saja pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi sedikit atau banyak. Dari sini guru merasa sudah kehabisan cara untuk menertibkan siswa hingga akhirnya menyerah, maka dipanggillah wali murid mengatakan tidak sanggup mendidik lagi dan terbitlah surat pengeluaran siswa yang bersangkutan.

Menyoal hukuman yang pantas bagi siswa, tidak bisa dilepaskan dari seluruh sistem yang ada di lingkungan sekolah. Maka pandangan seorang guru haruslah luas dan menyeluruh, tidak bisa hanya berpikir instan melihat dari satu sisi saja dengan mencari atau menciptakan model hukuman yang membuat jera siswa didik. Karena akan percuma, siswa didik tetap akan beradaptasi untuk mencari celah peraturan baru tersebut, sehingga harapan untuk memberi efek jera para pelaku tidak akan pernah terwujud kecuali dengan mengeluarkannya dari sekolah.

Sebenarnya hal semacam ini telah ada dan menjangkiti hampir semua sistem pendidikan sekolah dari dulu hingga kini. Jadi sebenarnya apakah yang demikian adalah sebuah hal yang wajar dalam sistem pendidikan sekolah? Jelas tidak. Lalu bagaimana seharusnya? Apa yang harusnya dilakukan seorang guru untuk mengatasi keadaan yang demikian? Jawaban singkatnya, harus ada perubahan yang revolusioner dalam sistem pendidikan sekolah. Perubahan seperti apa yang dimaksud? Banyak sekali, tidak cukup satu artikel, mungkin baru akan tuntas pembahasannya disusun dalam buku tersendiri. Namun semoga uraian singkat berikut bisa memberi sedikit gambaran.

Hal - Hal Prinsip dalam Pendidikan

Menjadi guru adalah menjadi contoh yang akan diteladani para murid. Berat sekali beban yang dipikul oleh para guru, maka pada dasarnya tidak semua orang bisa dengan mudah menjadi guru. Dalam memberi contoh teladan yang baik, semua sifat kebaikan harus melekat dalam dirinya seperti jujur, amanah, ikhlas, penyabar, sopan, setia, pemberani, pengayom, pendidik dlsb. Selain tentunya harus menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan. Guru juga dituntut untuk bisa mengenali karakter para siswanya karena setiap siswa tidak sama, maka perlakuan yang diterapkan pun tidak bisa disamakan.

Dalam agama, contoh yang tepat untuk dijadikan teladan adalah sosok para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Tuhan. Khususnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sang guru terbaik sepanjang masa. Mempelajari sejarah dan meneladani akhlaq beliau adalah kewajiban semua guru dalam mendidik siswa siswinya.


Sedangkan murid, mereka juga manusia. Masing - masing tentu diberi minat dan bakat dalam dirinya. Maka sebenarnya, jika ingin mengendalikan kelakuan murid, teori mudahnya temukan minat dan bakatnya, maka dengan arahan yang tepat, secara otomatis ia akan menurut tanpa syarat demi mencapai keinginan terpendam di alam bawah sadarnya. Namun praktiknya tidak semudah yang dibayangkan, Tidak sedikit siswa didik ketika ditanya apa yang diinginkan atau apa yang menjadi cita – citanya, mereka bingung untuk menjawabnya. Untuk itu di sinilah seorang guru harus berperan.

Otak murid bagaikan harddisk komputer yang baru terpakai, tentu memori yang terkandung di dalamnya masih sedikit, untuk itu bayangan mereka akan sosok teladan yang menjadi panutan untuk diikuti masih terbatas. Maka menjadi tugas guru untuk memberi gambaran kepada murid mengenai sosok ideal yang bisa dijadikan panutan. Namun langkah yang tepat bukan hanya dengan memperkenalkan sosok dalam cerita atau gambar, namun jauh lebih efektif jika siswa menyaksikan secara langsung sosok teladan dalam bentuk nyata, yaitu guru itu sendiri. Daripada menyoal hukuman jauh lebih baik memperhatikan hal - hal prinsipil seperti ini, juga hal lain terkait sistem pembelajaran sekolah.

Semua orang sepakat bahwa sebenarnya yang namanya belajar tidak harus berada di sebuah bangunan kelas dengan suasana yang serba kaku, bahkan tidak harus berseragam atau bersepatu, buat apa? bukankah yang terpenting adalah bagaimana seorang murid bisa memahami materi yang diajarkan?. Belajar bisa di kandang sapi, kebun binatang, wc umum, pasar, bahkan mall, kenapa sekolah mempersempit arti kata belajar hanya berada di dalam yang dianggap ‘steril’ saja? Baju apapun yang dipakai bebas yang penting sopan dan menutup aurat.

Materi pelajaran yang diajarkan selama ini juga tidak lepas dari sorotan. Setiap siswa dituntut untuk bisa memahami semua materi pelajaran dengan baik yang mana di setiap jenjang pendidikan semua ilmu pengetahuan diajarkan, hal ini tentu membuat banyak siswa didik merasa jenuh dan malas mengikuti pelajaran, mungkin karena ia merasa tidak mampu mengikuti materi yang begitu banyak dan sebagainya.

Namun jika mau jujur belum tentu seorang guru bisa menjelaskan dan mampu memahami mata pelajaran lain selain yang beliau ajarkan. Ini jelas perlakuan yang tidak adil, seharusnya jika memang bermaksud baik ingin memahamkan siswa didik bahwa semua materi pelajaran itu penting bagi masa depan mereka, maka sebagai sosok panutan, setiap guru lebih wajib lagi menguasai dan mampu menjelaskan dengan baik segala macam ilmu pengetahuan tersebut.

Pada prinsipnya, yang dibutuhkan siswa adalah mengembangkan apa yang menjadi minat dan bakatnya hingga benar – benar menjadi orang yang ahli dibidangnya di samping juga membangun akhlaq yang baik yang bisa diteladani dari sifat gurunya. Dengan begitu siswa merasa bebannya ringan sehingga bisa fokus dalam belajar.

Namun, keinginan untuk mengubah begitu banyak hal yang sudah terlanjur mengakar kuat dalam sistem pendidikan sekolah rasanya hampir mustahil. Maka jika Anda seorang guru langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah mulai mempertanyakan pada diri sendiri, mampukah saya menjadi sosok guru yang baik? sejauh mana wawasan ilmu pengetahuan yang saya miliki? Jika 2 pertanyaan tersebut bisa terjawab, maka Anda akan bisa menentukan langkah selanjutnya.

Semoga bermanfaat. wallohu a'lah bis showaab

Belum ada Komentar untuk "Menghukum Siswa Didik Kurang Efektif"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel