Pendidikan Tidak Selalu Berarti Sekolah

Pendidikan tidak selalu berarti sekolah

Pendidikan adalah hal yang wajib adanya. Pendidikan sendiri memiliki arti yang sangat luas yaitu semua hal yang mengandung upaya untuk mengubah sikap dan tingkah laku manusia melalui proses pengajaran dan pelatihan guna mendewasakan olah pikir manusia sehingga menjadi lebih baik. Begitu pentingnya pendidikan menjadikannya wajib dilakukan oleh tiap individu tanpa terkecuali.

Namun seiring berkembangnya waktu, bagi banyak orang arti pendidikan menyempit menjadi sekolah. Kalau menyebut kata pendidikan yang terpikirkan adalah sekolah karena ia adalah suatu lembaga yang awalnya memang didirikan untuk memfasilitasi terwujudnya pendidikan bagi anak bangsa, seolah di luar lembaga itu apapun upaya untuk mendewasakan diri sebagaimana dimaksud dalam paragraf pertama dianggap bukan merupakan pendidikan.

Lembaga bernama sekolah itu lambat laun berkembang menjadi sesuatu yang sakral seolah dari sanalah sumber ilmu pengetahuan berasal. Apapun tindak tanduknya untuk memonopoli arti pendidikan membuat banyak masyarakat awam hanya manggut – manggut setuju. Tapi di sisi lain, bermunculan para pengkritik yang mulai mempertanyakan banyak hal tentang sekolah.

Salah satunya adalah Roem Topatimasang, kritikus dunia pendidikan yang kuliah di  ini mencurahkan banyak kegelisahannya tentang sistem pendidikan di sekolah dalam banyak tulisan. Kumpulan tulisan kritik semasa penulis kuliah itupun kemudian dibukukan dan diterbitkan dengan judul ‘Sekolah Itu Candu”.

Buku ini mengacak – acak pikiran dan perasaan hati yang terlanjur menganggap sekolah itu sakral, sumber ilmu pengetahuan berasal. Setelah membaca beberapa tulisan, seakan baru tersadar bahwa selama ini pikiran dan pemahaman tentang sekolah yang selalu terlintas hanya sebatas lamunan tentang hebatnya sistem pendidikan yang diberlakukan di sekolah, nyatanya itu hanya bagaikan make up tebal yang menutupi kusut keriputnya wajah yang buruk rupa.

Salah satu kritiknya yang membekas ialah tulisan ke-4 yang berjudul ‘Dirikanlah Sekolah’. Ada kutipan salah satu ungkapan dari George Bernard Shaw seorang penulis drama komedi dan pamflet sosial yang berbunyi, “He who can, does! He who cannot, teaches!” Kira-kira artian bebasnya “siapa yang bisa melakukan sesuatu, bekerjalah! Jika tidak mampu bekerja, mengajarlah!”. Ini adalah sindiran keras untuk seorang sarjana seperti saya yang tidak kunjung mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah, terlebih perasaan minder karena tidak memiliki keterampilan yang cukup membuat tidak percaya diri melamar pekerjaan di perusahaan – perusahaan besar namun juga gengsi jika mengerjakan hal yang remeh seperti menjadi pelayan toko atau kuli bangunan.

Suatu hari muncul harapan terlepas dari derita rasa malu jadi pengangguran dengan adanya tawaran mengajar di sebuah yayasan pendidikan di lingkungan tempat saya tinggal, yayasan tersebut dengan mudahnya menerima saya untuk mengajar meskipun saya bukanlah sarjana dari jurusan ilmu pendidikan. Singkatnya, dari kutipan Shaw itu saya tersindir berat, sehingga merasa bahwa mengajar adalah pilihan terakhir yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan muka jika tidak memiliki keterampilan untuk bersaing di dunia kerja. 

Selain itu, di bab ini pula Roem membuat gambaran dialog antara 2 orang di warung kopi yang intinya adalah menyindir tujuan pendirian lembaga pendidikan yang keliru. Diceritakan ada seorang pensiunan yang suntuk karena tidak tahu mau melakukan karena sudah memasuki masa pensiun uang pensiunan yang diterima tiap bulan pun nilainya kecil sehingga masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup, ketika ngopi ia bertemu dengan sosok ‘aku’ yang mana ini menggambarkan diri penulis sendiri. 

Maka terjadilah percakapan antara keduanya, setelah mendengar curhatan pensiunan itu, Aku memberi ide padanya, kenapa tidak buat tempat kursus saja? Toh dulunya adalah pegawai bagian administrasi, tentu ia memiliki ilmu dan pengalaman tentang administrasi. “Wah itu ide cemerlang” katanya, dengan mendirikan tempat kursus akan terlihat bahwa ia sosok yang terhormat karena ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Ide tersebut kemudian berkembang, andaikan sukses, bisa saja nanti menggandeng pengajar – pengajar lain dari kenalan – kenalan syukur2 mendapat pengajar yang memiliki banyak gelar, kalau perlu profesor.

Masalah gaji hanya soal hitung – hitungan saja, orang sekarang untuk masalah pendidikan sudah tidak melihat murah mahal, jika itu dipandang berkualitas orang tidak akan mikir lagi harus keluar berapa biaya. Seiring berjalannya waktu selain mengajarkan ilmu administrasi bisa buka cabang ilmu yang lain yang berhubungan. Terus menerus membesar hingga akhirnya kalau perlu buat universitas sendiri. 

Benar – benar ide yang menarik. Namun justru di situlah letak sindirannya. Jadi sebenarnya tujuan si pensiunan ini jika menuruti ide tersebut? Benarkah ia sepenuh hati berniat mencerdaskan kehidupan anak bangsa atau kembali ke awal cerita ia sering menggerutu karena kondisi keuangannya yang cekak?

Selain cerita – cerita diatas, masih banyak sindiran – sindiran lain yang membuat mata kita terbuka. Semua itu dikumpulkan dalam 14 Judul Tulisan dalam buku setebal kurang dari 200 halaman ini. Jika ada waktu luang, buku ini cukup layak bisa menjadi teman berpikir dan berimajinasi kita tentang dunia pendidikan yang di sebut sekolah.

Puaskan dahaga belajar anda dengan membaca : Ribuan buku legal tersedia gratis di aplikasi Ipusnas

Belum ada Komentar untuk "Pendidikan Tidak Selalu Berarti Sekolah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel