Penilaian Rapor Siswa Yang Meragukan

Salah satu tugas seorang guru ialah melakukan penilaian terhadap perkembangan siswa didiknya. Penilaian sendiri sebenarnya harus meliputi aspek yang menyeluruh dalam diri peserta didik seperti intelektualitas, etika, jiwa sosial, minat, bakat dll.  Namun faktanya, masih banyak praktik penilaian yang dilakukan hanya didasarkan pada aspek tertentu yang terbatas itu pun sering kali merupakan penilaian yang subjektif tergantung mood pengajar.

Sistem Penilaian Yang Meragukan

Mungkin saat ini kita patut bersyukur banyak sekolah mulai membenahi sistem penilaiannya. Dalam rapor siswa terdapat kolom – kolom penilaian tentang aspek – aspek selain intelektual seperti tingkat absensi, etika atau moral siswa. Mereka mulai menyadari bahwa pendidikan bukan hanya soal pengembangan intelektualitas, aspek lain juga memiliki makna penting bagi perkembangan siswa didik di masa depan.

Keraguan Terhadap Validitas Nilai

Pertanyaannya, “siapa yang bisa mengetahui proses dibalik munculnya nilai – nilai rapor tersebut?”. Guru bukanlah Tuhan, ia tidak akan bisa secara total mengetahui penilaian yang pas atas seluruh aspek dalam diri peserta didik. Jangankan satu kelas, untuk satu siswa saja belum tentu sempurna penilaiannya. Maka tidak ada yang bisa menjamin angka – angka statistik yang muncul dalam rapor siswa tersebut adalah akurat sebagaimana kondisi siswa sesungguhnya.

Bahkan fakta di lapangan mengatakan bahwa tiap kali ujian akhir pihak sekolah secara sengaja mengkatrol nilai – nilai siswa yang buruk, dengan tujuan agar image sekolah tidak dipandang jelek karena banyak muridnya yang tidak naik kelas. Pemandangan seperti Ini sudah menjadi rahasia umum di banyak sekolah di Indonesia.

Baca Juga : Cara terbaik selain menghukum siswa

Harus diakui telah banyak metode – metode penilaian yang diterapkan untuk mengetahui perkembangan siswa, tapi lagi – lagi itu semua hanyalah berdasar pada asumsi subjektif seorang guru, itu pun tidak akan bisa terlepas dari sisi emosional guru dalam memandang tiap siswanya.

Bagaimanapun, ada lebih banyak hal tersembunyi yang tidak semua bisa diketahui termasuk guru secara kasat mata. Hal – hal tersebut baru akan muncul sedikit demi sedikit setelah digali secara rutin dan terus menerus dengan memberi perhatian penuh dan rangsangan pada pikiran siswa untuk mengeluarkan segala uneg – unegnya. 

Seperti contoh, seorang guru dihadapkan pada kelakuan muridnya yang sulit diatur, ia sering bolos dan selalu tidak fokus dalam belajar sehingga nilainya banyak yang merah. Guru tersebut tidak pernah tahu bahwa dibalik kelakuan muridnya ada sebab utama yang melatarbelakangi tidak pernah terungkap. Mungkin faktor keluarga yang tidak harmonis, pergaulan yang tidak terkontrol, tidak menyukai pelajaran karena bukan minatnya atau beberapa faktor lain.

Maka sebagai sosok guru yang ideal, sebelum memvonis dan menyalahkan murid tersebut sebisa mungkin ia menelusuri penyebabnya, bila perlu harus mengunjungi rumahnya dan berkomunikasi langsung dengan wali murid, bukan bermaksud mengadukan kejelekan murid namun murni untuk mencari tahu penyebab kenapa murid sering bolos dan sebagainya. Dengan begitu akan tercipta ikatan kuat antara guru – wali murid – murid. Dengan usaha yang keras tersebut Tuhan pasti akan memberi jalan datangnya hidayah di hati muridnya.

Sayangnya kebanyakan guru tidaklah demikian, mereka terlalu sibuk dengan urusan – urusan lain sehingga tidak akan sempat memberi perhatian lebih terhadap siswa yang dianggap bermasalah. Cara simple yang sering dipilih adalah dengan memfokuskan pengajaran pada siswa yang penurut dan cukup kasih nilai merah di rapor siswa ‘pembangkang’ pada akhir semester. Efeknya siswa tersebut terancam tidak naik kelas. Dengan begitu para guru ini berharap akan memberikan efek jera dan menjadi pelajaran agar murid ‘ pembangkang’ tersebut berubah di tahun depan.

Dalam sistem pendidikan sekolah modern guru bukan hanya fokus mengajar. Banyak tugas - tugas lain yang membebani. Membuat silabus, mengelola administrasi kurikulum pendidikan dll. Mereka menjadi tidak berdaya karena terlalu disibukkan dengan hal lain dalam belenggu yang dibuat oleh sistem sehingga waktu untuk memberi perhatian pada siswanya terasa sangat minim. Selain itu, hal – hal lain di luar teknis pengajaran seperti ketimpangan jumlah guru – murid, kurangnya fasilitas pendukung, gaji guru yang rendah juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab. Maka tidak lantas kesalahan bisa dibebankan ke pundak guru sepenuhnya jika ada penilaian yang tidak akurat. Mereka sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan yang lain.

Maka apa yang bisa di harapkan dalam sistem penilaian yang di buat oleh sekolah? Jangan terlalu berharap, nanti kecewa. Nilai – nilai rapor bukanlah segalanya, bahkan ia hanyalah gambaran yang masih buram. Tidak sepenuhnya bisa dijadikan gambaran kondisi perkembangan siswa secara akurat. 
Maka seharusnya tidak muncul lagi istilah siswa bodoh, siswa pintar dalam sistem pendidikan. Hal itu akan memberi efek yang sangat membekas pada siswa didik di kemudian hari. Lebih baik sebagai seorang guru selalu bisa memotivasi siswanya yang masih jenuh dalam belajar dengan mengatakan bahwa tidak masalah mendapatkan nilai buruk di rapor, tidak akan ber efek apa – apa pada masa depan. Dan segera menggali dan menemukan minat dan bakat siswa yang tersembunyi dan mengembangkannya.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Belum ada Komentar untuk "Penilaian Rapor Siswa Yang Meragukan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel