Pola Pikir yang Menjebak (Part 2)

Pola pikir berikut juga memiliki potensi menjebak yang tak kalah besar dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya, berikut uraiannya.

Pola Pikir berbahaya

3. Kalau Saya Seperti Ini, Apa Kata Orang Nanti

Sering terdengar seseorang mengatakan kalimat di atas, bahkan mungkin kita sendiri. Dalam kondisi tertentu di mana seseorang merasa dihadapkan pada sesuatu yang jika dilakukan menurutnya tidak layak maka kekhawatiran muncul mengenai pandangan orang lain terhadap dirinya, maka terbersit kalimat semacam itu dalam pikiran.

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang sedikit banyak memiliki rasa ingin dipandang baik di mata yang lain, meskipun masing – masing memiliki ukuran yang berbeda – beda mengenai kata ‘baik’ tersebut. Perbedaan interpretasi inilah yang nanti memiliki potensi menjebak pola pikir manusia.

Baik bagi sebagian orang berarti tidak melanggar nilai – nilai luhur yang dijunjung bersama dalam bermasyarakat. Seperti berlaku sopan dan menaruh hormat terhadap orang yang lebih tua, tidak mengganggu urusan orang lain, mematuhi peraturan – peraturan yang disepakati bersama dll. Maka ketika ada orang yang melanggar nilai – nilai tersebut secara otomatis ia akan dicap sebagai orang yang tidak baik.

Baik bagi sebagian yang lain diartikan mampu mengungguli orang lain/ memiliki sesuatu yang orang lain tidak punya. Seperti lebih banyak pengetahuan, pengalaman, memiliki pekerjaan yang dianggap lebih nyaman, kendaraan lebih mewah, rumah lebih besar dll. Maka orang dengan keunggulan – keunggulan tersebut akan dianggap atau menganggap dirinya lebih baik dari yang lain.

Ketika pikiran ingin dipandang baik muncul, secara otomatis akan diterjemahkan oleh tubuh untuk melakukan hal – hal yang diperlukan untuk mewujudkannya. Karena jika tidak, maka ia khawatir orang lain akan memandangnya buruk sehingga merasa akan tidak dihargai atau bahkan dimusuhi.

Pola pikir demikian sungguh sangat menjebak. Jebakan ini membuat orang merasa tertekan dan tidak bisa bergerak leluasa seperti yang dikehendaki hati nurani. Terlebih jika seseorang sudah berusaha sekuat tenaga demi mewujudkan bayangan pola pikirnya agar dipandang baik, ternyata orang lain tetap memandangnya buruk. Tentu ia akan kecewa berat dan merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini sia – sia. Menyakitkan.

Oleh karena itu dalam agama diajarkan sebuah konsep yang disebut dengan ikhlas. Ikhlas merupakan antitesa untuk melawan jebakan pola pikir di atas. Dengan terus melatih keikhlasan, orang akan terbiasa tidak tergantung lagi terhadap pendapat orang lain. Jika tidak ingin melanggar norma masyarakat misalnya, itu adalah bentuk kesadaran murni dalam dirinya bahwa memang norma itu baik dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Jika punya mobil mewah, tidak ada perasaan merasa ingin dipandang lebih baik dari yang lain. Mobil tersebut hanya semata prasarana untuk memenuhi kebutuhan, jika dikemudian hari tetangga memiliki hajat dan membutuhkan kendaraan, dengan ringan tangan akan meminjamkannya.

4. Buat Apa Berpendidikan Tinggi Jika Hanya Jadi Kuli Bangunan.

Mungkin kalimatnya tidak sama persis namun memiliki pesan yang senada. Yaitu menganggap rendah apa yang dilakukan orang lain dengan dalih pendidikan atau lebih tepatnya memperbandingkan uang yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan hasil yang diperoleh jika hanya bekerja dengan gaji rendahan macam kuli bangunan.

Sebenarnya secara konsep tidak jauh berbeda dengan pola pikir sebelumnya, hanya saja yang ini lebih spesifik. Kembali yang menjadi pokok permasalahan adalah ukuran baik. Bagi orang yang memiliki pola pikir seperti ini, semua hal dinilai dengan uang. Suatu pekerjaan yang baik harusnya menghasilkan uang yang banyak.

Ia lupa bahwa sesungguhnya fungsi pendidikan tidak seharusnya dikaitkan dengan pekerjaan ataupun penghasilan yang didapatkan. Karena fungsi pendidikan adalah mengupayakan seseorang agar memiliki olah pikir yang dewasa sehingga mampu bersikap layaknya orang dewasa, yaitu mampu membedakan baik dan buruk, apa hal yang bermanfaat untuk dilakukan dan menghindari melakukan hal yang menimbulkan kerusakan. Maka luas sekali jangkauan makna yang dikandung dalam kata pendidikan.

Dengan demikian jebakan pola pikir di atas akan memelintir makna dari pendidikan itu sendiri. Bukan berarti jika ada seseorang yang bergelar sarjana hukum kemudian terjun menjadi kuli bangunan itu hina, siapa yang menyangka di dalam hatinya terus berkobar rasa ingin tahu yang mendalam pada dunia arsitektur karena memang ia sebenarnya berbakat di bidang itu, mungkin materi hukum yang ia pelajari selama ini tidak sesuai dengan passion yang dimiliki. 

Maka dimulai dengan menjadi kuli bangunan ia merasa justru mendapatkan apa yang selama ini ia cari, untuk itu dengan semangat ia terus mempelajari seluk beluk ilmu bangunan hingga akhirnya ketika tiba waktunya, ia muncul sebagai sosok yang baru yaitu sebagai arsitek handal yang merancang banyak bangunan fenomenal.

Lalu di mana posisi orang – orang yang terjebak pola pikir tersebut? Jelas mereka akan menanggung malu melihat kenyataan yang ada, itupun jika masih tersisa rasa malu yang dimiliki, atau justru mencari target baru untuk dicibir. 

Semoga bukan kita yang terjebak pola pikir demikian.


Belum ada Komentar untuk "Pola Pikir yang Menjebak (Part 2)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel