Relasi Antara Kemudahan dan Munculnya Kemalasan

Kemudahan dan Kemalasan

Saat ini teknologi berkembang begitu pesat, berbagai peralatan baru diciptakan untuk membantu manusia dalam menjalani aktivitasnya sehari – hari. Dengan bantuan peralatan tersebut semakin hari manusia semakin dimudahkan mengerjakan sesuatu di berbagai bidang, relasi sosial, transportasi, hubungan jual beli, update informasi, metode pembelajaran, peternakan, pertanian, dlsb.

Beda halnya di zaman kakek nenek dulu, untuk melakukan perjalanan jauh mereka terbiasa melakukannya dengan berjalan kaki dalam waktu yang cukup lama atau dengan menaiki hewan tunggangan bagi yang memilikinya. Untuk bertani, beternak, mencari informasi terbaru, berkirim kabar untuk sanak keluarga yang jauh, semuanya masih dilakukan secara manual. 

Dua zaman yang berbeda, kondisi sosial dan budaya juga pasti berbeda. Dalam kondisi normal, orang sekarang untuk berjalan kaki dari satu desa ke desa lain saja terasa sangat terbebani, mereka sudah terbiasa dimudahkan dengan kepraktisan mengendarai kendaraan bermotor, tinggal tancap gas beberapa menit kemudian sampai. Begitu juga orang dulu, andai kita bisa melakukan perjalanan waktu kembali ke masa lalu, dengan memperlihatkan smartphone yang serba berbau ‘modern’ orang dulu pasti akan terkejut dan heboh satu kota.

Namun jangan dulu berbangga karena hidup di masa sekarang dan meremehkan kehidupan masa lalu dengan menganggapnya serba kuno. Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti memiliki 2 sisi, baik dan buruk, kemanfaatan dan kemudharatan. Tidak ada yang sempurna selain Tuhan itu sendiri. Berbagai kemudahan yang bisa dinikmati saat ini sedikit banyak bisa menjadi salah satu faktor munculnya kemalasan, keculasan, selalu ingin mencari jalan pintas dll dalam diri kita. Sebaliknya kehidupan zaman kakek nenek dulu yang serba manual, memberi dukungan pada mereka untuk menjadi sosok manusia yang rajin, pekerja keras, bermental tangguh, dll.


Dari penjelasan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa kemudahan memiliki relasi atau hubungan yang kuat dengan munculnya kemalasan, sebaliknya kesulitan memiliki relasi kuat dengan bangkitnya kegigihan untuk mengurainya.

Sesekali coba perhatikan kondisi masyarakat di sekeliling, atau tidak perlu jauh – jauh cukup dimulai melihat dalam diri sendiri. Seberapa tinggi tingkat kemalasan masing – masing ketika sudah mengenal berbagai kemudahan yang ditawarkan pada saat ini, coba dibandingkan dengan liarnya sikap kita dulu waktu kecil sebelum mengenal gadget. 

Terbayang dulu waktu kecil masih sering bermain bersama teman – teman di lapangan, kebun, sawah atau di jalan – jalan kampung (bagi yang tinggal di pedesaan), tak peduli kepanasan atau kehujanan, semua dianggap sebagai arena permainan yang mengasyikkan, kini ketika sudah mengenal gadget, sebagian besar kebiasaan berubah total, jangankan untuk bermain kejar – kejaran seperti dulu, keluar rumah saja malas rasanya. Dalam perbandingan tersebut kami cukup yakin kemungkinan besar tingkat kemalasan akan meningkat seiring dengan semakin banyaknya kemudahan yang dinikmati.

Namun kami menyadari, tentu parameter tersebut tidak bisa disamaratakan pada semua orang. Pasti ada pengecualian dalam setiap hal, selalu ada orang – orang yang akan tetap memiliki mental tangguh, rajin dan ulet dalam melakukan sesuatu walaupun ia dikepung oleh berbagai tawaran ‘jalan pintas’ yang tersedia saat ini. Mereka tetap mau belajar tekun walaupun mbah Google secara praktis mampu menyediakan berbagai macam informasi, tinggal ketik kata kunci muncul semua informasi yang dibutuhkan. Di sisi lain, pada saat ujian sebagian besar karena malas belajar, kecanduan lewat ‘jalan pintas’ dengan meminta wangsit pada si Mbah. Tetapi tentu jumlah mereka yang rajin hanya setitik jika dibandingkan dengan orang yang bertekuk lutut, tunduk dan patuh untuk menerima tawaran jalan pintas dan menuruti kemalasannya tersebut.

Maka perlu kita sadari bersama adalah bahwa kita harus selalu mampu mengendalikan diri, mampu mengukur batas, mampu membedakan antara memanfaatkan teknologi atau sebenarnya dimanfaatkan oleh orang lain dengan berbagai tawaran kemudahan kecanggihan yang disediakan. Semua tergantung diri masing – masing. Semoga kita semua selalu diberi kemudahan untuk melawan setiap rasa malas yang muncul. Tidak ada salahnya menggunakan kemudahan teknologi asal masih dalam batas wajar sebagai sarana untuk lebih menggali bakat terpendam dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.

Sekian, semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Relasi Antara Kemudahan dan Munculnya Kemalasan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel