Moral Baik Yang Perlu Diajarkan Pada Anak Sejak Dini : Rendah Hati (Bag. 3)

Mengajarkan pada anak untuk selalu rendah hati

Rendah Hati Sebagai Rival Kesombongan

Rendah hati dalam ajaran Agama disebut dengan tawaddhu’. Ia merupakan kebalikan dari sifat takabbur yaitu sombong/ tinggi hati. Sombong merupakan sumber dari hampir semua moral buruk dalam diri manusia. Kesombongan dalam hati akan memicu munculnya rasa malas, berbangga diri, merendahkan orang lain, fanatik buta, merasa paling benar, dlsb. Sehingga yang terjadi kemudian selalu melihat kesalahan dan kekurangan orang lain tanpa pernah introspeksi ke dalam dirinya sendiri. 

Ia benar – benar merupakan akhlak yang sangat merusak yang terkadang kemunculannya dalam hati sangat halus, tidak gampang terdeteksi. Perasaan sombong mulai muncul jika rasa ke-aku-an mulai meninggi, ingin diakui orang, ingin dianggap keberadaannya, ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Perasaan seperti ini bisa muncul pada semua orang, baik orang kaya, miskin, tua, muda, pejabat atau rakyat biasa. 

Bagi yang kaya ia akan berpikir, “aku ini orang terhormat, hartaku banyak, mudah bagiku mendapatkan sesuatu yang aku inginkan, setiap orang harusnya menghormatiku dan tidak memandangku sepele, aku tidak terlalu membutuhkan lain bahkan mereka yang seharusnya butuh aku.”

Bagi orang miskin mungkin ia berpikir, “aku sekarang dalam kondisi miskin, orang lain harusnya mengasihaniku, orang seperti aku harusnya layak mendapatkan bantuan, kebutuhan dasarku dipenuhi. Apa mereka tidak tahu bahwa do’a orang miskin akan mudah dikabulkan Tuhan, orang – orang yang kaya itu tidak sadar bahwa kedudukannya di sisi Tuhan lebih rendah daripada aku, mereka terlalu bangga dengan hartanya, sedangkan aku selalu bersabar dengan kemiskinanku.” Atau lebih jauh ia berpikir untuk menyalahkan Tuhan karena kemiskinannya. Tanpa sadar sebenarnya hakikat itu semua termasuk kesombongan.

Tua, muda, pejabat atau rakyat biasa juga berpotensi muncul perasaan – perasaan dalam hatinya ketika rasa ke-aku-annya mulai meninggi. 

Menanamkan Pemahaman Rendah Hati Pada Anak

Untuk itu, sejak dini kita perlu menanamkan kepada anak pemahaman tentang lawan dari sifat sombong, yaitu rendah hati. Ia adalah satu – satunya lawan yang ideal untuk menaklukkan rasa sombong tersebut yang mulai muncul. Rendah hati akan mendorong manusia untuk sedikit demi sedikit melawan rasa ke-aku-annya dan membuat seseorang akan merasa bahwa dirinya adalah individu yang paling buruk di hadapan Tuhan karena ia akan selalu teringat dengan kesalahan yang selama ini diperbuat.

Bagi seseorang yang perasaan rendah hatinya sudah begitu kokoh dan mengakar kuat dalam hati, ia akan merasa bahwa dirinya bukan siapa – siapa dari jutaan makhluk yang diciptakan Tuhan di alam semesta dirinya hanyalah setitik debu yang bahkan tidak terlihat sungguh tidak ada apa - apanya, jadi untuk apa berharap orang lain berlaku hormat, ia tidak sedih jika dihina karena memang ia merasa dirinya sudah hina di hadapan Tuhan.

Dengan mulai kuatnya perasaan rendah hati, seseorang akan memiliki pijakan kuat dalam bertindak dan akan muncul perasaan lain yang terpuji, seperti ikhlas, qona’ah (menerima takdir yang ditentukan padanya), selalu bekerja keras untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain, selalu introspeksi kesalahan diri dan mulai muncul keberanian untuk menegakkan yang haq dan melawan kebathilan bukan untuk ingin dipuji atau takut dihina atau dijelek-jelekkan oleh orang lain, namun karena ia sepenuhnya merasa bahwa memang hal tersebut sudah seharusnya dilakukan oleh hamba Tuhan.

Anak yang masih kecil tentu belum mengerti konsep semacam ini, maka menjadi tugas bagi setiap orang tua untuk mengenalkannya. Bisa dimulai dengan membiasakan pada anak untuk bersikap biasa atau sewajarnya saja ketika menghadapi sesuatu, seperti jika suatu hari sang anak mendapatkan juara di sekolah atau di suatu perlombaan, maka boleh sejenak ia bergembira dan dipuji sewajarnya namun selanjutnya perlu dipahamkan bahwa juara / hadiah yang diperoleh bukanlah tujuan dalam menjalani sesuatu, ia hanya sebagai akibat, yang perlu dilakukan oleh setiap manusia hanya selalu berusaha yang terbaik untuk menjadi orang yang selalu bermanfaat bagi orang lain.

Begitu juga ketika anak terpuruk karena mengalami sesuatu yang sangat tidak diinginkan, biarlah ia sedih sejenak, setelah itu diajak ngobrol berdua dengan diberi pemahaman bahwa manusia ini terlahir tidak membawa apa – apa, mati pun juga demikian, tidak membawa apa – apa selain bekas – bekas perbuatan baik yang dilakukan baik kepada Tuhan, orang lain, maupun kepada alam lingkungan sekitar. Maka tidak perlu terlalu bersedih jika mengalami sesuatu yang buruk, bisa jadi itu hanya ujian agar hati menjadi lebih kuat untuk menerima ketentuan dariNya.

Selain itu anak juga perlu diberi contoh agar selalu ringan tangan membantu saudara, teman, tetangga atau siapapun yang sedang membutuhkan pertolongan, bahkan hewan atau tumbuhan kecil di sekitar rumah. Salah satu rasa ke-aku-an dalam hati adalah ingin selalu dilayani, maka cara menangkalnya adalah sebanyak mungkin kita harus membiasakan anak untuk melayani orang lain dengan membantu mereka yang membutuhkan tanpa perlu meminta upah atau sejenisnya.

Dengan konsisten melakukan latihan di atas insyaallah anak dengan sendirinya akan ikhlas menjalani sesuatu, tidak mengharapkan embel – embel apapun dari orang lain. Hal itulah yang akan membuatnya bisa rendah hati dan melawan sifat ke-aku-an dalam hatinya.

Demikian, semoga kehidupan keluarga kita selalu berada dalam keberkahan, dan semoga anak – anak kita tumbuh menjadi anak yang berjiwa rendah hati dan bisa memberi manfaat yang sebesar – besarnya pada lingkungan sekitarnya. Semoga bermanfaat, wallohu a’lam.

Bersambung ...

Bagian 1 : Tentang Kejujuran
Bagian 2 : Tentang Rajin
Bagian 4 : Tentang Ringan Tangan
Bagian 5 : Tentang Sikap Mengalah
Bagian 6 : Tentang Tanggung Jawab

Belum ada Komentar untuk "Moral Baik Yang Perlu Diajarkan Pada Anak Sejak Dini : Rendah Hati (Bag. 3)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel