Resiko Terlalu Mempercayakan Pendidikan Anak Pada Sekolah

Pendidikan anak begitu berarti bagi setiap orang tua. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi gembel atau gelandangan karena kurangnya pendidikan yang dimiliki. Maka tidak jarang sebagai orang tua berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan anak dengan harapan akan mendapatkan pendidikan terbaik tidak peduli berapapun biaya yang akan dikeluarkan.

Resiko Terlalu Mempercayakan Pendidikan anak Pada sekolah

Banyaknya orang tua yang merasa tidak mampu untuk mendidik anaknya sendiri membuat sebagian orang tua memakai jasa yang disediakan oleh lembaga – lembaga yang bergerak di bidang pendidikan untuk memasrahkan pendidikan anaknya. Dari sini, sebagian orang tua memiliki mindset bahwa urusan pendidikan biarlah lembaga pendidikan yang menangani, orang tua hanya bertugas mencari uang sebagai biaya dan bekal pendidikannya. Dengan begitu berarti mereka akan mempercayakan proses pendidikan anak sepenuhnya kepada pihak lembaga pendidikan atau biasa disebut sekolah.

Tanpa disadari cara berpikir seperti ini menjadikan orang tua hanya sebagai (maaf) robot pekerja untuk sekolah. Berdasarkan laporan – laporan yang diberikan, mereka merasa sudah bisa mengukur perkembangan pendidikan putra putrinya. Biasanya di akhir masa pembelajaran orang tua akan bergolak rasa hatinya melihat nilai – nilai rapor anaknya, senang jika ternyata mendapat nilai bagus terlebih jika menjadi juara kelas atau akan marah sekali jika banyak coretan merah di dalamnya.

Hal semacam ini cukup berisiko. Orang tua yang jarang atau bahkan tidak merasa perlu melakukan evaluasi pribadi terhadap perkembangan pendidikan anak dan menaruh kepercayaan terlalu besar pada penilaian yang diberikan sekolah, bisa jadi akan menyesal jika ternyata di kemudian hari mengetahui bahwa penilaian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. 


Seperti contoh, setiap akhir semester terlihat seorang anak mendapat nilai yang buruk di banyak mata pelajaran. Dengan kepercayaan penuh pada hasil laporan yang diberikan sekolah secara otomatis timbul di benak orang tua bahwa anaknya bodoh, tidak serius belajar, tidak becus dlsb. Reaksi umum yang dilakukan orang tua biasanya adalah marah, mengancam anak tidak diberi uang saku, memaksa anak mengurangi jam bermain atau semacamnya. Suatu hari seseorang menemui mereka untuk membuktikan bahwa anaknya adalah seorang jenius di bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan mata pelajaran sekolah yang selama ini dipelajari. Ketika terbukti, bagaimana perasaan orang tua tersebut waktu itu? Pastinya malu dan sangat menyesal ternyata selama ini anggapannya tidak benar.

Maka mindset di atas sudah seharusnya tidak dimiliki oleh orang tua. Bagaimanapun anak adalah titipan Tuhan yang diberikan kepada setiap orang tua, orang tua memiliki kewajiban penuh untuk merawat dan membesarkan anaknya sebaik mungkin termasuk di dalamnya adalah kewajiban mendidik.

Harus diakui bahwa pendidikan adalah salah satu kewajiban yang paling berat yang harus ditanggung oleh orang tua, maka tidak sedikit yang merasa tidak mampu melakukannya. Perasaan minder karena ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak mencukupi membuat orang tua merasa tidak mampu mendidik, sehingga menyerahkannya kepada pihak lain yang dianggap mampu dengan memberi sedikit imbalan jasa.

Tidak ada salahnya jika menitipkan anak kepada pihak lain untuk dididik ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki orang tua. Tuhan tidak bermaksud memberi beban kepada hambaNya di luar kemampuan yang dimiliki, namun dengan menitipkan bukan berarti tugas mendidik itu akan sepenuhnya lepas dari tangan orang tua. 

Orang tua tetap memiliki tanggung jawab setidaknya mengevaluasi dan memonitor perkembangan anak secara terus menerus, dengan begitu orang tua akan selalu waspada. Jika ternyata dalam kurun waktu tertentu perkembangan perilaku dan intelektual anak tidak ada peningkatan, berarti ada yang tidak beres dalam pendidikannya. Maka dengan segera orang tua akan melakukan langkah – langkah untuk mencari tahu penyebab dan solusinya. Bukan dengan memarahi atau mengata – ngatai bahwa dia bodoh, tidak becus dll. Namun mulai dengan bertanya kepada anak dari hati ke hati apa yang menyebabkan demikian. Solusi yang tepat akan muncul jika orang tua mengetahui penyebab utamanya.

Akhir kata, pendidikan anak bukan hanya soal berapa banyak biaya yang dikeluarkan namun kewajiban mendampingi sekaligus mengarahkan anak secara terus menerus untuk menemukan jalan kehidupan terbaiknya.

Belum ada Komentar untuk "Resiko Terlalu Mempercayakan Pendidikan Anak Pada Sekolah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel