Relasi Antara Kemewahan dan Keserakahan

Relasi kemewahan dan keserakahan


Kekayaan cukup erat kaitannya dengan kemewahan dan kemewahan sangat erat relasinya dengan keserakahan, kita tidak bisa menutup mata tentang hal itu. Di zaman sekarang justru hampir semua orang memimpikan mendapat kekayaan sebanyak mungkin. Lihat saja motto berbisnis yang diajarkan di sekolah dan kampus – kampus, “untung sebanyak mungkin dengan modal yang sesedikit mungkin”.

Di masa belajar setiap siswa diajarkan hal itu, maka ketika dewasa secara sadar atau tidak mereka secara otomatis akan terilhami dalam setiap profesi yang dilakukannya dan ide – ide bisnisnya. Padahal slogan tersebut adalah produk dari paham kapitalisme yang sedang menguasai dunia saat ini dengan berbagai tipu daya dan menimbulkan kerusakan dan kesengsaraan di mana – mana. 

Slogan itu secara halus dan tanpa disadari bisa menipu setiap orang untuk melepas sifat serakah yang begitu ganas dan merusak dalam dirinya, dan celakanya saat ini slogan itu menjadi sangat populer dan hampir semua orang menyetujui dan mengimaninya. Mengenai hal ini sudah kami bahas dalam artikel lain yang berjudul Pola Pikir yang Menjebak

Sebelumnya penting untuk diutarakan bahwa tulisan ini tidak bermaksud mencela keinginan, harapan atau cita – cita seseorang untuk menjadi kaya. Tidak ada salahnya seseorang memiliki harta kekayaan, bahkan kalau bisa semua orang menjadi kaya, dengan begitu tidak ada lagi saling iri hati dan dan akan hilang segala bentuk ketimpangan dan kesenjangan dalam kehidupan sebagaimana yang saat ini marak terjadi.

Namun penting untuk dicatat bahwa setiap orang yang berkeinginan menjadi kaya raya harus sangat berhati – hati karena godaan kekayaan begitu kuat. Kekayaan bisa membuat seseorang memunculkan karakter aslinya. Dulu di kala hidup pas – pasan, seseorang terlihat begitu sederhana, penuh rendah hati pada orang lain, suka menolong dan mau bergaul dengan siapa saja, setelah mendapat kekayaan yang selama ini diimpikan semuanya berubah, gaya hidup mulai diliputi kemewahan, serba enak, nyaman dan serba berlebihan. Selera makan meningkat, tidak lagi mau makan di warung pinggir jalan, pakaian hanya ingin yang merek terkenal, ingin mengoleksi barang – barang dan keinginan – keinginan yang sifatnya kesenangan duniawi.

Hal itu sedikit demi sedikit akan menggerus sifat rendah hati yang dulu ia miliki, ia mulai acuh tak acuh pada orang di sekitarnya, mulai pilih – pilih dalam pergaulan, hanya orang – orang tertentu yang mau digauli, sedangkan pada sebagian yang lain ia memandang rendah dan remeh. Maka muncullah penyakit – penyakit dalam hatinya seperti sombong, membanggakan diri, perhitungan, mudah dendam, iri, dengki, dan lain – lain, tentu ini sangat berbahaya.

Salah satu penyakit hati yang muncul di kala hidup bermewahan adalah serakah. Keserakahan membuat orang merasa tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki, ibarat sudah memiliki segunung emas, ia tetap akan meminta lagi gunung emas yang lain, sudah memiliki smartphone bagus, masih ingin yang lebih bagus, sudah punya istri masih juga tergoda ingin memiliki wanita - wanita lainnya, keserakahan tidak akan pernah berujung hingga ajal menjemput. 

Rasa yang tak pernah puas itu sebenarnya adalah sifat yang secara default tertanam dalam diri tiap manusia, kita semua memilikinya tanpa terkecuali. Rasa tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang baik yakni agar manusia giat bekerja dan berusaha untuk menjadi lebih baik secara terus menerus. Namun rasa yang tak pernah puas tersebut sering kali dibelokkan ke dalam kesenangan – kesenangan yang sifatnya sementara dan duniawi. Terutama pada saat ini materi dianggap segala – galanya yang biasanya disimbolkan dengan uang, tanpa uang seseorang merasa tidak bisa hidup dan sebaliknya dengan memiliki uang berlimpah semua kesenangan bisa didapatkan dengan mudah, sehingga terpaksa atau secara sukarela semua orang memburunya.

Karakter asli berupa keserakahan akan hal – hal duniawi inilah yang ditakutkan akan muncul saat seseorang hidup menggunakan kekayaannya dalam kemewahan yang berlebihan. Beda halnya ketika seseorang mampu mengendalikan diri dengan baik, kekayaan yang dimiliki tidak membuatnya berubah dari sikap sederhana, menjauhkan diri dari kemewahan yang berlebihan, tetap berendah hati pada orang lain, suka membantu orang lain yang kesulitan dan lain – lain. 

Orang semacam ini akan bisa membentengi diri dari sifat serakah terhadap dunia. Ia bisa membedakan antara kebutuhan hidup dan keinginan yang menggoda bahkan jika suatu saat ia ditakdirkan harus kehilangan semua harta yang dimiliki, ia tidak akan terlalu bersedih atau frustasi ia tetap akan menjadi sosok sederhana dan apa adanya dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Namun jumlah orang semacam ini sangat sedikit dibanding orang yang mudah terjerumus dalam keserakahan yang tak berkesudahan.

Untuk itu, boleh saja setiap orang ingin kaya, namun sejak dini masing - masing harus melatih diri menjauhi kemewahan yang berlebihan, selalu berusaha dengan tekun untuk menggapai apa yang diinginkan melalui cara – cara yang jujur dan tidak merugikan orang lain. Inilah satu – satunya jalan agar bisa terhindar dari jebakan keserakahan. Dan perlu diketahui bahwa kekayaan yang didapat melalui cara – cara yang benar pasti akan membawa keberkahan bagi pemiliknya dan sebaliknya kekayaan yang diperoleh lewat cara yang keliru, kecurangan dan tipu daya akan membawa dampak buruk bagi pemiliknya di kemudian hari.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Relasi Antara Kemewahan dan Keserakahan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel