Manusia Pada Dasarnya Tidak Berkehendak Menentukan Apapun

Manusia pada dasarnya tidak memiliki kehendak

Kehendak Sejati Adalah Milik Tuhan

Kita sebagai manusia pada hakikatnya hanya diwajibkan berusaha, kita tidak dituntut atau tidak memiliki kuasa untuk menentukan sesuatu. Hampir semua orang tidak akan bisa mengintip apa yang terjadi pada dirinya di masa depan walaupun untuk sepersekian detik, apalagi pada diri orang lain, hanya sedikit orang yang diberi izin oleh Yang Maha Kuasa untuk melakukan itu seperti para kekasih dan utusanNya.

Sebagian orang yang skeptis mungkin berkata, “kata siapa tidak bisa? Ini lihat, 5 detik lagi saya akan berdiri (dia mengatakannya dalam posisi duduk)”. Dan benarlah lima detik kemudian ia bisa berdiri. Benarkah demikian? Apakah si skeptis tersebut benar – benar mampu menentukan apa yang terjadi pada dirinya? Jawaban pastinya tidak.

Agama mengajarkan bahwa segala hal yang terjadi di alam semesta tidak akan luput dari takdir atau ketetapanNya. Dalam kasus di atas, apa yang dicontohkan tidaklah mencerminkan kemampuan manusia untuk menentukan sesuatu, pada hakikatnya hal itu hanyalah sebuah contoh dari cipratan kehendak (Kehendak Pinjaman) yang diberikan Tuhan kepada manusia dan Ia mengizinkan hal itu terjadi. Andai waktu itu si skeptis tidak diberi izin untuk berdiri, bisa saja didetik ketiga atau keempat atau sepersekian detik sebelum memutuskan berdiri tiba – tiba kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan. Mudah saja hal ini dilakukan olehNya.

Bukti Manusia Tidak Berkehendak

Jika ada yang tetap ngotot bahwa manusia bisa berkehendak, coba sesekali tentukan sendiri kapan, jam berapa, menit ke berapa, detik ke berapa dirinya mengantuk, atau coba dijadwal sendiri kapan ingin buang air kecil atau BAB. Dalam tubuh kita sendiri saja kita tidak berkuasa penuh, seperti contoh apa kita bisa mengatur berbagai hal yang terjadi dalam organ – organ dalam tubuh kita? Coba sesekali buatlah keputusan agar makanan yang dimakan tidak perlu melewati lambung, dari kerongkongan langsung tembus ke usus besar dan langsung di buang lewat anus. Apa bisa?

Belum lagi dengan akal pikiran, kita sama sekali tidak berkehendak untuk mengatur. Untuk itulah ada ungkapan mengatakan manusia memang tempatnya salah dan lupa, tidak ada seorang pun manusia di muka bumi yang tidak pernah sekalipun mengalami lupa. Seseorang sama sekali tidak mengetahui sama sekali kapan ia akan lupa. Eh tiba – tiba lupa begitu saja, sudah bersiap – siap segala hal bahkan sudah dicatat, tetap ada saja sesuatu yang tertinggal karena ternyata ia lupa memasukkannya dalam catatan. Bukankah hal ini pernah atau bahkan sering terjadi dalam kehidupan sehari – hari?

Semua bukti di atas menunjukkan bahwa manusia benar - benar tidak memiliki kuasa atau kehendak sama sekali dalam menentukan sesuatu. Karena itulah manusia dituntut agar selalu bersikap rendah hati dan membuang jauh – jauh sifat kesombongan dalam hati. Kesombongan adalah selendang Tuhan, sifat ini yang hanya patut dimiliki olehNya.

Refleksi

Manusia hanyalah seorang hamba; abdi atau bahasa kasarnya budak. Ia hanyalah sebuah ciptaan yang setiap centimeter anggota tubuhnya 100% merupakan pemberian Sang Pencipta, begitu pula dengan setiap kondisi dan situasi yang dialami semuanya ditentukan olehNya. Jika menyadari hal ini, bagaimana mungkin kita sebagai manusia berani berlaku tidak sopan dengan mencuri selendang kebesaranNya.


Sifat sombong adalah penyakit hati, ia selalu menjadi musuh utama bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Kesombongan yang tertanam di dalam hati akan melahirkan sifat – sifat lain yang merusak dan merugikan diri sendiri maupun orang lain, kesombongan sering kali akan menutup mata dan hati seseorang sehingga tidak lagi bisa melihat kebenaran yang ada. Salah satu sifat yang merusak tersebut adalah merasa memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.

Ada sekian banyak contoh kesombongan manusia di masa lalu yang mana semua pelakunya berakhir secara tragis dan dihinakan oleh Tuhan. Salah satunya adalah cerita tentang Raja Namrud atau Nimrod, ia begitu congkak menantang Tuhan. Pada waktu ia berkuasa itu ada seorang Nabi yang diutus oleh Tuhan untuk berdakwah membimbing manusia pada jalan kebenaran yakni Nabi Ibrahim atau Abraham.

Di hadapan nabi Ibrahim, dengan congkak ia mengaku sebagai Tuhan, ia merasa memiliki segalanya dan segala kehendaknya pasti akan dituruti. Nabi Ibrahim mencoba menyadarkannya seraya bersabda, “sembahlah Tuhan Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan”, mendengar hal itu ia tidak mau kalah, Namrud kemudian memanggil 2 budak, lalu diambillah sebilah pedang kemudian dengan itu ia membunuh salah satu budak dan membiarkan hidup budak lainnya. Bagi dia perbuatan tersebut sama halnya dengan Maha Menghidupkan dan Mematikan. Betapa lucu dan mengerikkannya kejadian tersebut.

Menjelang akhir masa hidupnya, ia berseru kepada nabi Ibrahim seraya menyombongkan diri, di depannya ia pamerkan ratusan ribu tentara yang siap bertempur untuk menantang duel Tuhan yang selalu didakwakan oleh Nabi Ibrahim. Dengan tenang Nabi Ibrahim kemudian berdo’a kepada Tuhan, selepas do’a, seketika muncullah jutaan nyamuk membumbung tinggi bergumpal – gumpal bagai awan hitam bergerak ke arah ratusan ribu tentara Namrud, terkejutlah semua yang hadir di sana. Menyadari hal itu tanpa diperintah semuanya bubar berlarian mengambil benda apa pun, mengibas – ngibaskannya untuk menghalau dan membasmi nyamuk – nyamuk tersebut.

Namun jumlah nyamuk terlalu banyak, satu persatu tentara tewas akibat gigitan atau karena nyamuk memasuki dalam hidung, telinga atau mulut dan menyiksa mereka dari dalam tubuh. Melihat hal itu Namrud tergopoh – gopoh masuk ke dalam istana dan memerintahkan menutup semua celah yang ada berharap nyamuk – nyamuk tersebut tidak bisa mencapainya. Naas, ada satu nyamuk yang berhasil masuk ke dalam biliknya melalui celah kecil yang lolos dari pengawasan, dengan kuasa Tuhan nyamuk tersebut kemudian masuk ke dalam hidung Namrud tembus ke otak.

Di dalam kepala Namrud nyamuk tersebut menggigit, berdenging dan terbang kesana – kemari. Diperlakukan begitu, Namrud merasa sangat tersiksa, maka kemudian ia memanggil seorang pelayan dan memaksa agar memukul kepalanya dengan sangat keras. Dengan ancaman akan dibunuh jika tidak mematuhi perintahnya akhirnya pelayan tersebut benar – benar menghantam kepala Namrud keras sekali, dan seketika tewaslah ia.

Cerita tersebut bukanlah fiktif atau khayalan, ia merupakan sebuah kenyataan yang terjadi pada masa lampau. Dari sini kita seharusnya telah mengambil pelajaran bahwa sebagai manusia kita sebenarnya dalam diciptakan dalam keadaan yang lemah dan tidak berdaya, hanya karena rahmat Tuhanlah kita bisa seperti sekarang. Apapun kondisi yang di alami, yakinlah itu adalah hal terbaik yang diberikan Tuhan kepada kita.

Sekian, semoga bermanfaat. Wallohu a’lam

Belum ada Komentar untuk "Manusia Pada Dasarnya Tidak Berkehendak Menentukan Apapun"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel