Salah Kaprah Anggapan Murid Pintar dan Murid Bodoh

salah kaprah murid pintar murid bodoh

Setiap Orang Berpeluang Sama

Semua manusia terlahir dengan diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan, yaitu kesempatan untuk memilih. Andai saja seseorang terlahir dalam keadaan (maaf) cacat, hakikatnya kesempatan yang diberikan tetap tidak berkurang. Kondisi tersebut merupakan ujian dariNya, bukankah segala aspek kehidupan di dunia ini merupakan ujian untuk menentukan kualitas setiap orang?

Jika seseorang mampu bersabar atas setiap ujian, tetap berbaik sangka kepada Tuhan sekaligus selalu bersyukur dengan pemberiannya, tentu derajatnya akan diangkat dalam posisi yang tinggi, dan sebaliknya barang siapa menjadi orang yang tidak tahu terima kasih (Syukur) derajatnya akan terjun bebas menjadi lebih rendah dari hewan yang tak berakal.

Miskin Kaya, Cantik Buruk rupa, Normal Cacat, Kulit Hitam Putih Coklat atau Belang, setiap orang tidak bisa memilih dalam kondisi bagaimana dilahirkan, yang bisa dilakukan hanyalah menentukan pilihan apakah akan menjadi orang yang bersyukur atau kufur. Tapi yang perlu diingat adalah bahwa dibalik kekurangan selalu ada kelebihan dan sebaliknya. Seiring berjalannya waktu, setiap orang diharapkan bisa mengenali potensi kelebihan dan kekurangan dalam diri masing – masing karena semakin dalam mengenal diri, semakin besar pula pengenalan pada Tuhannya.

Anggapan Murid Pintar dan Murid Bodoh

Dalam dunia pendidikan, terdapat istilah yang sering ditujukan untuk peserta didik, yakni pintar atau bodoh, murid dianggap pintar jika sering mendapatkan nilai bagus, bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan, dan meraih peringkat teratas di akhir masa proses pembelajaran, sedangkan setiap murid yang banyak nilai merah, tidak menurut apa kata guru, nakal dan peringkat selalu di bawah, ia akan otomatis di cap sebagai murid bodoh. Pandangan semacam ini dianut oleh sebagian besar masyarakat sejak munculnya sistem pendidikan yang disebut sekolah hingga sekarang.

Dalam menyikapi keduanya pun biasanya timpang sekali, murid yang ‘dianggap’ pintar diperlakukan begitu baik, dipuji, dibangga – banggakan, diberi berbagai macam hadiah, piagam penghargaan dll, sedangkan murid yang ‘dianggap’ bodoh dipandang sebelah mata dianggap tak lebih dari sekedar pecundang, diolok – olok, jangan harap diberi hadiah, yang diterima sering kali berupa kemarahan hampir setiap waktu, dituduh malas, tidak berguna, dibanding – bandingkan dengan murid pintar, dll.

Standar Yang Keliru

Sayangnya standar yang digunakan dalam mencap murid pintar atau bodoh di atas sering kali terbukti sebagai penilaian yang keliru dan salah kaprah. Pada kenyataannya, tidak sedikit murid yang dulunya waktu di sekolah mendapat nilai buruk, nakal, dan peringkatnya sering di bawah, ketika dewasa kehidupannya jauh lebih baik dari pada murid yang dikenal pintar, selalu mendapat nilai bagus dan peringkat teratas, bahkan ada orang yang hanya memiliki ijazah SD bisa mempekerjakan dan menggaji banyak tenaga ahli setingkat sarjana. Bukankah hal semacam ini seharusnya membuka mata kita agar mau mengkaji hal ini lebih dalam?


Kepintaran dan kebodohan pada hakikatnya hanyalah asumsi yang dibuat oleh manusia sendiri. Sedangkan yang namanya asumsi, mungkin benar mungkin juga salah. Sebuah asumsi sangat bergantung pada pengalaman, pengetahuan dan daya nalar yang dimiliki. Seseorang akan memiliki asumsi yang semakin presisi jika ia berpengetahuan luas dan pengalamannya banyak. Dalam urusan asumsi murid pintar dan bodoh pun demikian.

Maka, sebelum memberi cap murid pintar atau bodoh, seyogyanya terlebih dahulu guru dan orang tua harus melebarkan pengetahuan dan pengalaman begitu juga daya nalarnya. Murid juga manusia, mereka pasti memiliki potensi kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Bisa jadi sebagian murid berpotensi menjadi ahli di bidang Matematika, sebagian lain berpotensi cepat menguasai bahasa atau mungkin ada sebagian murid justru memiliki bakat di luar bidang mata pelajaran sekolah. Siapa bilang kepintaran hanya diukur berdasarkan kemampuan dalam menguasai mata pelajaran yang diajarkan sekolah?

Itulah kenapa ada sebuah ungkapan bijak yang berbunyi “jangan mudah menghakimi seseorang” atau “jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya”, kami menafsiri makna dari ungkapan tersebut adalah sebenarnya sangat sulit menilai secara tepat jati diri seseorang atau mungkin lebih tepat dikatakan hampir mustahil untuk melakukannya. Kita tidak pernah tahu apa yang terlintas di benak seseorang, apa rahasia yang disembunyikan. Pengetahuan kita sebenarnya sangat dangkal.

Menilai seorang murid pintar atau bodoh dengan hanya diasumsikan dari perolehan nilai atau peringkat di kelas sama halnya dengan menilai murid hanya melihat sampul atau kulit luarnya saja. Sejauh mana si penilai selalu mengamati kebiasaan murid, mengetahui latar belakangnya, pergaulannya, minat dan bakatnya, apa yang disukai, apa yang dibenci, kegemaran, hobi dan lain sebagainya. Semua itu memiliki peran dalam membentuk karakter dan watak dan otomatis juga akan mempengaruhi tindakan – tindakannya selama di sekolah. Maka sebelum mengetahui semua hal itu ada baiknya mulai menghilangkan kebiasaan menilai pintar atau bodoh.

Asumsi murid pintar murid bodoh sebenarnya jua merupakan ujian dari Tuhan, baik bagi murid itu sendiri maupun bagi guru dan orang tua. Namun sering kali orang - orang gagal dalam melewatinya, hal ini bisa dilihat dari sebagian besar kondisi di masyarakat yang sering kali salah kaprah dalam menyikapinya.

Bagi murid pintar perlakuan baik dan selalu dipuji – puji, membuat mereka sering kali akan terpancing untuk berlaku sombong, egois, dan secara mental akan rapuh dalam arti ketika suatu saat tidak lagi mendapat pujian, mereka akan mudah down. Sedangkan bagi murid ‘bodoh’ sering kali menjadikan mereka minder, tidak lagi percaya pada kemampuan diri dan mudah frustrasi. Sedangkan bagi guru dan orang tua ujian tersebut berupa ujian kesabaran dalam mendidik. Sebagian mereka gagal dalam melewatinya, kebanyakan akan marah – marah jika murid atau anaknya mendapat cap bodoh atau terlalu berlebihan dalam memperlakukan anak jika dicap pintar.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah menganggap murid pintar dan murid bodoh yang selama ini jamak berlaku, sudah tidak relevan lagi dan sudah tidak sepatutnya dilakukan. Untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang berkualitas, perlu kesadaran dan kepekaan dari semua pihak, baik pengelolah sekolah, orang tua dan murid. Penilaian baik atau buruk yang diberikan oleh pihak sekolah bukanlah segalanya, ia bukanlah acuan satu – satunya dalam menilai kondisi murid. 

Yang perlu dilakukan adalah bahu membahu menemukan minat dan bakat yang dimiliki setiap murid, mengenali kelebihan dan kekurangannya untuk kemudian diarahkan pada kebaikan agar bisa berkembang sesuai keahliannya di bidangnya masing – masing. Bagi guru dan orang tua sudah sepatutnya menjadi teladan yang baik dan berjiwa besar agar bisa merangkul semua murid, mengayomi dan memberi perhatian penuh pada mereka. Hanya dengan itu pendidikan berkualitas akan bisa terwujud.



Sekian, semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Salah Kaprah Anggapan Murid Pintar dan Murid Bodoh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel