Hati - hati, Hindari Salah Niat ke Sekolah

Sekolah adalah suatu lembaga yang mengkhususkan diri menyediakan layanan jasa di bidang pendidikan, di dalamnya segala proses pembelajaran dilaksanakan. Seluruh komponen sekolah, tenaga pengajar, tenaga pembantu, peserta didik, wali murid semuanya bersatu padu untuk bisa mencapai tujuan yang dimaksud yakni menghasilkan lulusan yang berilmu dan bermoral tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

jangan salah niat ke sekolah

Di antara semua komponen tersebut, dalam proses untuk mencapai tujuan, yang seharusnya memainkan peran paling besar adalah peserta didik. Merekalah yang harus lebih berjuang keras pantang menyerah karena mereka adalah aktor utama yang dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam pendidikan di sekolah. Kesuksesan sekolah adalah ketika bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya tinggi dan sebaliknya sekolah akan dianggap gagal ketika peserta didik yang lulus darinya jauh dari standar yang diharapkan bersama.

Salah satu faktor penentu keberhasilan yang perlu dipertimbangkan oleh segenap komponen sekolah khususnya peserta didik adalah niat yang tepat. Salah niat sama artinya dengan salah tujuan, dan ketika salah tujuan maka langkah yang diambil kemungkinan besar salah dan pastinya akan memberikan hasil tidak seperti yang diharapkan. Niat ketika berangkat sekolah tentu sangat beragam tergantung masing – masing kepala dan tergantung kondisi dan situasi yang dialami.

Tidak semua peserta didik ketika berangkat ke sekolah memiliki niat yang kuat untuk sungguh – sungguh belajar agar memperoleh ilmu yang bermanfaat, terkadang mereka malah berniat sebagaimana yang akan kami uraikan berikut. Perihal niat inilah yang perlu diperhatikan dan dihimbau terus menerus oleh para pengajar dan wali murid agar peserta didik tidak melenceng terlalu jauh dari tujuan awalnya.

Berikut beberapa niat yang kami pandang salah dan tidak sepatutnya dihindari jauh – jauh oleh setiap peserta didik :

1. Ke Sekolah Untuk Pindah Tempat Bermain

Permainan adalah instrumen yang sulit dipisahkan dalam kehidupan seorang anak usia kecil hingga remaja, bahkan kalangan dewasa pun tidak sedikit yang tertarik untuk bermain. Permainan bagi anak jika tidak dikontrol dengan serius oleh orang tua bisa menyebabkan dampak negatif bagi perkembangan pendidikannya, terutama ketika melihat perkembangan dunia game saat ini yang begitu pesat.

Bagi anak yang terlalu kecanduan bermain, ia tidak bisa lagi membagi waktu dengan baik yang ada di pikirannya hanyalah fokus di game yang sedang dimainkan. Jika sudah demikian ia sebenarnya tidak lagi memiliki niat yang kuat untuk belajar. Untuk berangkat ke sekolah rasanya sangat berat sekali, hanya saja mungkin karena tidak enak jika di rumah terus atau takut dimarahi orang tua, mau tidak mau ia memaksakan diri untuk berangkat.

Namun yang terjadi adalah kesalahan niat, ia ke sekolah hanya untuk pindah tempat bermain, karena di rumah takur dimarahi ortu lebih aman jika ia membawa HPnya ke sekolah dan bermain di sana.


2. Ingin Ketemu Gebetan

Anak yang sudah masuk masa puber pasti lagi semangat – semangatnya berangkat ke sekolah karena ingin bertemu dengan ‘cinta monyet’nya. Hampir semua peserta didik usia remaja pernah mengalaminya terkecuali mungkin yang punya kelainan mental atau kelainan ketertarikan.

Hal semacam ini termasuk salah satu niat yang salah yang perlu untuk dihindari. Banyak yang bilang punya gebetan/ pacar itu bisa menambah semangat belajar, semangat berlatih, semangat berusaha bla bla bla. Ucapan tersebut tidak sepenuhnya bisa disalahkan, mungkin bagi sebagian orang memang benar demikian adanya. Yang jadi pertanyaan adalah lebih besar mana fokus yang dimiliki, pada tujuan belajar atau pada ketemu gebetan, godaan untuk ingin selalu menghabiskan bersama, saling caper dll? Jawabannya cukup dikembalikan saja ke masing – masing pelaku. 

Niat belajar yang masih memiliki embel – embel di belakangnya biasanya tidak berumur lama. Bayangkan suatu ketika dua sejoli yang mengaku sangat bersemangat dalam belajar tidak lagi memiliki rasa ketertarikan satu sama lain, bahkan dalam kasus lain bisa jadi bermusuhan karena suatu masalah yang dihadapi. Bagaimana nasib fokus pada pelajaran yang seharusnya menjadi tugas utama mereka? Lagi – lagi jawabannya cukup dikembalikan saja ke masing – masing pelaku.

3. Ke Sekolah Untuk Pindah Tempat Tidur

Niat yang salah berikut masih ada kaitan dan kemiripan dengan poin pertama, biasanya ketika anak – anak terlalu banyak bermain dan tidak bisa mengatur waktu dengan baik maka yang terjadi adalah kondisi tubuh menjadi capek dan kurang fit. Hal ini akan berdampak pada menurunnya semangat belajar dan berangkat ke sekolah.

Jika ia memaksakan diri atau dipaksa untuk berangkat ke sekolah, kemungkinan besar yang muncul di benaknya adalah niat ingin pindah tempat istirahat di sekolah. Hal ini jelas fatal akibatnya karena ketika sampai di kelas dalam kondisi mengantuk dan tidak fokus pada pelajaran ia mungkin akan tertidur, melihat hal itu normalnya guru pengajar akan membangunkannya sekali dua kali, jika tetap tidak bisa sang guru akan marah dan menghukumnya.

Berdasarkan keterangan tersebut kesalahan niat pindah tempat tidur ke sekolah ini sangat tidak efektif, selain nanti tujuannya sulit tercapai karena selalu berbenturan dengan guru yang sedang mengajar, ia akan bersikap uring – uringan karena merasa belum mendapatkan istirahat yang cukup, dan jika keterusan seperti itu, kondisi tubuhnya akan down dan akhirnya sakit.

4. Sekolah Untuk Mendapat Ijazah

Ini adalah poin yang paling krusial karena sebagian besar orang saat ini melakukannya. Ijazah adalah sebuah tanda pengesahan resmi yang dikeluarkan sebagai bukti bahwa pemiliknya telah dinyatakan lulus dalam menyelesaikan proses pembelajaran di sekolah/ universitas. Ijazah saat ini dipandang sangat penting keberadaannya dan menjadi buruan banyak orang. Tanpa ijazah tidak sedikit yang merasa akan kesulitan.

Pandangan – pandangan semacam itulah yang menjadi permasalahan serius dalam menentukan niat ke sekolah. Pandangan masyarakat terhadap ijazah telah membuat pergeseran niat ke sekolah yang awalnya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak berganti dengan ke sekolah untuk mendapatkan ijazah. Juga pandangan tersebut menggeser maksud didirikannya sekolah yang awalnya sebagai lembaga yang fokus di bidang pendidikan menjadi lembaga penyedia Ijazah.

Peserta didik tidak perlu terlalu mengurusi masalah ijazah agar tidak salah niat. Pada kenyataannya, ijazah sebenarnya tidak sepenting yang dibayangkan. Di sekitar kita banyak didapati orang – orang yang hanya memiliki ijazah tingkatan rendah (SD, SMP) yang bisa menjadi seseorang yang memiliki posisi yang kuat dan dihormati oleh masyarakat berkat ilmu, keahlian, kekayaan atau jabatannya. Sebaliknya, banyak pula seseorang yang memiliki ijazah level tinggi (Sarjana S1, S2, S3) yang hanya menjadi pengangguran dan tidak bisa memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Intinya adalah peserta didik harus tetap fokus pada niat atau tujuan utama dalam proses pembelajaran yaitu menjadi sosok pribadi yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa setidaknya bagi orang – orang di sekeliling. Bermanfaat bisa melalui ilmu pengetahuan, akhlak yang baik kepada sesama, sumbangan tenaga dan pemikiran, atau bisa melalui harta yang dimiliki. Di luar niat itu, urusan ijazah biarlah menjadi urusan manajemen guru di sekolah.

Artikel Lain : Menetapkan Tujuan Belajar

Demikian beberapa uraian niat yang salah yang selayaknya dihindari oleh setiap siswa ketika akan berangkat ke sekolah. Semoga bermanfaat dan bisa menyumbang wawasan kita bersama. Kami cukupkan sampai di sini sampai ketemu di artikel selanjutnya.

Belum ada Komentar untuk "Hati - hati, Hindari Salah Niat ke Sekolah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel